Since Good Leader are not Good Enough

Since Good Leader are not good enough adalah adalah semboyan bagi mereka yang ingin terus memperbaiki diri. Continous improvement atau kaizen merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam petuah tersebut. Ketika kita telah nyaman dalam kondisi yang ada sekarang, dan tradisi kita atau kebiasaan kita telah meyakinkan diri kita bahwa memang hal tersebut adalah yang terbaik bagi kita, maka sudah bisa ditentukan akhir cerita dari kehidupan kita. Kehidupan yang tidak bergerak dari satu kondisi ke kondisi berikutnya tanpa ada satu pun yang bisa dibilang berkembang dalam kehidupan kita. Rasulullah sendiri telah mengajarkan umatnya untuk senantiasa berkembang baik itu dari segi ibadah maupun dalam bermuammalah. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita sebagai umatnya bahwa kehidupan kita harus selalu lebih baik dari waktu ke waktu, hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok harus lebih dari hari sekarang.
Proses transformasi menjadi yang lebih baik juga membutuhkan sedikit saja orang yang ingin menggerakkan. Sebagai perbadingan, ketika dahulu dakwah Islam masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi, bisa dikatakan ketika itu, penyeru akan cahaya Islam hanya segelintir orang saja. “Transformation in our world never be initiated by many people. It’s always originated by a few selected people”. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita termasuk dalam bagian orang yang terpilih untuk membawa perubahan tersebut. Semua itu ada dalam diri kita masing-masing. Karena untuk berubah adalah sebuah pilihan yang tentunya memiliki konsekuensi yang tidak sedikit.
Ada beberapa kriteria bagi mereka yang ingin menjadi seorang pemimpin (leader). Di antara kriteria-kriteria tersebut adalah :
• Setting direction : Pemimpin adalah seseorang yang bisa mengarahkan ke dalam tujuan tertentu. Bahwa ia bukanlah yang terombang-ambing dengan keadaan yang ada. Ia haruslah seseorang yang mempunyai visi jauh ke depan. Ia adalah seorang nahkoda yang hendak melabuhkan kapal ke pelabuhan impian. Bahwa ia adalah seorang motivator terhadap anggotanya ketika kapal tumpangannya salah arah. Seseorang yang mahir dalam merencakan dan membuat pertimbangan-pertimbangan seperti budgeting belum bisa disebut bahwa ia adalah seorang pemimpin. Sekali lagi bahwa seorang pemimpin haruslah seorang yang bisa mengarahkan kapal menuju pelabuhan impian.
• People : seorang pemimpin adalah mereka yang senantiasa berhubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, mereka haruslah sangat peka terhadap apa yang sedang atau akan dialami bagi orang-orang yang ada di sekitarnya ketika ia harus mengambil kebijakan atau bertindak. Karena setiap tindakannya akan sangat berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak, maka ia haruslah sangatlah peka terhadap kondis real dari orang-orang sekitarnya.
• Solution : seorang pemimpin haruslah menjadi sumber solusi bukan sebagai sumber masalah. Bahwa seorang pemimpin haruslah cerdas dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada. Rasulullah pernah mencontohkan tentang pentingnya kecerdasan dalam memimpin. Ketika itu, Rasulullah pernah diminta untuk memecahkan masalah siapa yang sebenarnya berhak menaruh hajar aswad kembali ke tempatnya karena Baitullah ketika itu sedang diperbaiki. Rasulullah pun keluar dengan solusi yang brilian.

So, how far the insting of leader within you….

Impedansi dan sekelumitnya

Secara teori,  impedansi dan resistansi adalah dua hal yang sama. Impedansi menunjukan hambatan yang ada pada rangkaian AC, sedangkan resistansi menunjukan hambatan yang ada pada rangkaian DC.  Impedansi menggambarkan resultan dari hambatan dalam yang ada pada resistor, kapasitor, dan induktor. Meskipun satuan impedansi sama dengan satuan resistor (ohm), pada dasarnya impedansi tidak menunjukan nilai hambatan sebenarnya dari sebuah alat listrik. Jadi, jika kita mengukur impedansi katakanlah sebuah speaker, maka nilai impedansi yang didapat bukan menunjukan nilai hambatan yang sebenarnya.

Jika dibandingkan dengan rangkaian seri yang ada pada rangkaian DC, perhitungan untuk menghitung impedansi total dalam suatu rangkaian AC lebih rumit dibandingkan dengan rangkaian DC. Pada rangkaian DC, nilai hambatan total untuk rangkaian seri cukup dijumalahkan secara sederhana. Namun, untuk menghitung impedansi total haruslah menggunakan rumusan tertentu.

Berapa impedansi speaker dan headphone dan bagaimana umumnya spesifikasi yang baik?

Secara umum, impedansi speaker yang beredar di pasaran adalah 4-8 ohm dan headphone berkisar 75-600 ohm. Besarnya impedansi tersebut menunjukan ketahanan rangkaian dalam mengalirkan arus yang melaluinya. Sebagai analogi, perhatikan selang yang biasa digunakan untuk mengalirkan air. Selang tersebut akan lebih tahan terhadap kebocoran akibat aliran air jika selang tersebut memiliki tahanan yang besar terhadap aliran air. Sama seperti selang tersebut di atas, rangkaian listrik dengan tahanan (impedansi) yang lebih besar akan lebih tahan terhadap risiko kebakaran dibandingkan dengan rangkaian listrik dengan impedansi yang lebih rendah.

Kembali pada analogi selang air di atas, impedansi menujukan hambatan yang mengahalangi air untuk mengalir dalam selang air. Impedansi rendah menunjukan bahwa selang air dapat mengalirkan air lebih banyak dan lebih deras, sedangkan impedansi tinggi menunjukan bahwa selang air hanya dapat mengalirkan air lebih sedikit. Lalu bagaimana aplikasi selang air tersebut dalam penerapannya di dunia elektronik? Apakah suatu speker dengan impedansi yang lebih besar itu lebih baik dari speaker dengan impedansi yang lebih kecil?

Pemilihan speaker mempertimbangkan keperluan yang dibutuhkan. Tentunya jika kita menghubungkan antara speaker dengan amplifier yang tidak cocok maka akan mengakibatkan suara yang dihasilkan pun tidak optimal. Suara speaker tersebut bisa tetap melempem walaupun volume suaranya sudah dibuat maksimal. Hal tersebut bisa disebabkan karena kurang cocok impedansi speaker dengan amplifier. Dalam industri musik, tentu saja hal ini bisa merugikan karena kualitas suara yang dihasilkan bisa tidak maksimal atau tidak sesuai dengan harapan akibat adanya gangguan suara. Namun, ukuran impedansi berbagai unit audion telah disesuaikan besaran impedansi sehingga tidak mengganggu keluaran suara yang dihasilkan. Unit audio tersebut biasanya mempunyai impedansi sebesar 100 kilo ohm s.d. 1 mega ohm, sedangkan impedansi unit keluarannya berkisar 10 -100 kilo ohm.

Apa efek jika dua headphone dihubungkan secara parallel dan bagaimana jika dihubungkan secara seri?

Jika dua headphone (mempunyai hambatan masing-masing sebesar R) dihubungkan secara parallel, maka hambatan pengganti dari kedua headphone tersebut adalah 0,5 R ohm. Oleh karena itu, kehilangan daya yang dihasilkan akibat penghubungan kedua headphone secara parallel adalah sebesar 50 %.  Dengan perhitungan yang sama dengan rangkaian parallel,  jika kedua headphone dihubungkan secara seri, maka kenaikan daya yang terjadi adalah sebesar 100 %.

Arus Listrik? Tegangan Listrik? Daya Listrik?

ELEKTRON, APAAN TUH……………..

Secara terminologi, arus berarti banyaknya entitas yang mengalir dalam suatu jalur atau penghantar per satuan waktu. satuan waktu yang biasa digunakan adalah sekon. oleh karena itu, arus listrik berarti banyaknya elektron yang mengalir dalam suatu penghantar (konduktor) per satuan waktu. banyaknya elektron di atas dapat disebut sebagai muatan dari elektron itu tersendiri..

Jika dianalogikan sebagai air yang mengalir dalam selang (molekul air adalah elektron dan pembuka keran sebagai sumber daya), maka molekul air tersebut akan mengalir ketika adanya pendorong atau dalam hal ini adalah sumber daya yang membuat molekul air tersebut dapat mengalir. Begitu juga dengan elektron, elektron tersebut dapat mengalir ketika adanya sumber arus yang dapat mendorong elektron tersebut sehingga bisa mengalir dengan leluasa.

Sesuai dengan konvensi, seperti yang dikeluarkan oleh Benyamin Franklin (1706 – 1790), arus dapat diinterpretasikan sebagai aliran dari elektron. Arus dapat disimbolkan dengan huruf alfabet, I. Adapun satuan dari arus listri adalah ampere yang dibuat sebagai penghormatan bagi ilmuwan Perancis Andre-Marie Ampere yang berhasil mendefinisikan dan mengembangkan bagaimana mengukurnya pada tahun 1820-an.

Arus dapat dibagi menjadi dua jenis yakni Direct Current (DC) dan Alternating Current (AC). Arus DC adalah jenis arus yang mengalir searah dari suatu sumber tenaga. Arus DC mengalir konstan terhadap waktu. Arus yang mengalir secara bervariasi terhadap waktu. Salah satu sumber arus DC adalah Baterai yang terhubungkan dengan mainan anak-anak. Salah satu sumber dari arus AC adalah listrik yang biasa disuplai oleh PLN.

TEGANGAN LISTRIK

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, arus dapat mengalir jika ada sumber tenaga yang mendorong arus itu untuk bisa mengalir. Sumber tenaga itu dilakukan oleh tenaga eksternal (electomotive force). Tegangan juga bisa didefiniskan sebagai beda potensial, karena potensial dari setiap titik dalam konduktor sulit untuk diukur tidak seperti halnya beda potensial dari tiap titik yang ditinjau yang lebih mudah untuk diukur. Beda potensial adalah besarnya perubahan energi dari titik yang ditinjau terhadap muatan listrik.

Tegangan atau beda potensial dapat disimbolkan dengan huruf alfabet V yang diambil dari ilmuwan Italia, Alessandro Antonio Volta. Adapun satuan dari beda potensial adalah Volt yang diambil dari ilmuwan yang sama.

Daya Listrik.

Kembali pada penyebab mengalirnya arus listrik. Seperti pada penjelasan di atas, arus mengalir karena adanya sumber daya listrik. Lalu apa sebenarnya Daya Listrik itu? Daya listrik adalah besarnya perubahan energi listrik yang mengalir terhadap waktu.

Bila kita membandingkan iluminasi dari bohlam 100 watt dan 60 watt akan berbeda. Bohlam 100 watt tentu akan lebih cerah dari pada bohlam 60 watt. Juga, bila kita hendak membayar tagihan listrik bulanan kita maka yang menjadi tolok ukur dari berapa kita harus membayar tagihan listrik bulan ini adalah dalam satuan watt bukan dalam satuan ampere ataupun volt. oleh karena itu,  satuan dari daya yakni watt juga penting untuk diperhatikan.

nyetrum ga ya……

suatu ketika saya hendak mencuci dengan mesin cuci yang telah menemani saya hingga sekarang. namun bukan sambutan baik yang diberikan oleh si mesin cuci itu, tetapi sapaan ringan yang sontak saya balas dengan teriakan yang ringan pula. saya pun kemudian “melaporkan kejadian itu kepada kedua orang tua saya…ada apa dengan mesin cuci ini…tak lama kemudian kakak kedua saya pun datang dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi..beliau menjelaskan bahwa mesin cuci tersebut telah konslet sehingga menyebabkan listrik yang keluar dari mesin cuci “teralirkan dengan baik” ke tubuh saya…nah yang jadi pertanyaan adalah mengapa sampai terjadi seperti itu, dan apa sebenarnya kesetrum itu?

keserum adalah peristiwa dimana aliran listrik yang seharusnya mengalir “pada jalurnya” kemudian mengambil jalan pintas ke tubuh kita karena adanya “pertigaan” yang mana menghubungkan tubuh kita dengan pertigaan itu. “pertigaan” itu bisa terjadi karena adanya kabel listrik yang terbuka atau bisa jadi memang adanya sumber listrik yang mengalir begitu saja ke tubuh kita. secara teknis, tubuh kita akan bisa merasakan setruman bahkan walaupun hanya 1 miliamper. dampak dari kesetrum ini bisa bervariasi tergantung dari berapa jumlah arus yang mengalir ke dalam tubuh kita dan ada atau tidaknya bahan isolator yang ada yang melindungi tubuh kita dari “setrum” secara langsung. akibat bisa bertambah fatal jika ada bahan-bahan konduktor seperti air yang menjadi “jalan tol” bagi mengalirnya setrum. seperti dalam contoh kasus saya di atas, maka kemungkinan besar yang menjadi “jalan tol” bagi si setrum adalah air.

seperti telah dijelaskan di atas, kesetrum bisa mengakibatkan beranek ragam implikasi yang bisa jadi sangat fatal seperti berujungnya nyawa seseorang di tangan si “setrum” itu. nah setrum yang bagaimana yang berakibat fatal…setrum dengan arus sekitar 100 mA bisa berakibat fatal jika ia melewati bagian sensitif dari tubuh kita..selain itu, akibat lain dari kesetrum adalah efek psikologi, neorologi, dan terbakar..

lalu bagaiman cara penanganan pertama (PPPK) yang terbaik untuk menolong korban akibat ulah si setrum..jika sengatan listrik terjadi di rumah..langkah pertama yang harus dilakuakan adalah mematikan sumber alrian dari listrik yakni dengan mematikan saklar atau sekring yang ada..kemudian jauhakan si korban sengatan listrik dari sumber listrik dengan menyentuh langsung si korban..kita bisa menyentuh korban dengan bahan-bahan yang tidak menghantarkan listrik (bahan isolator) seperti kayu dan plastik..lakukan penolongan pertama seperti pemberian nafas buatan atau bisa menghubungi nomer darurat yang bisa dihubungi…

nah..masih takut dengan si setrum jail?

Implementasi K3 di Indonesia

Kejadian kebakaran beberapa waktu lalu di depo Plumpang menjadi tamparan keras bagi Pertamina mengingat depo tersebut merupakan salah satu depo penampungan terbesar yang ada di negeri ini. Pasokan BBM ke jakarta, depok, dan Bekasi pun terkena dampaknya. Kerugian tidak saja material tetapi juga non-material seperti hilangnya nyawa seorang petugas keamanan pun menjadi risiko yang harus ditanggung. Berbagai spekulasi terkait musibah yang terjadi di depo Plumpang muncul ke permukaan. Namun yang menjadi pertanyaan terbesar adalah mengapa kejadian kebakaran tersebut harus terjadi? Apakah ada sabotase untuk mengganggu distribusi BBM di negeri ini?

Kebakaran di depo Plumpang sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap komponen pendukung di depo penampungan terbesar di Indonesia tersebut bisa saling bersinergi alih-alih saling menyalahkan ketika musibah sudah terjadi. Kebakaran di depo Plumpang atau berbagai macam bentuk kecelakaan kerja lainnya tidak perlu terjadi jika pihak manajemen secara sadar melaksanakan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) dengan baik. Peraturan dan segala bentuk prosedur terkait SMK3 ditujukan untuk mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Kerugian akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (sektor formal) menurut data yang tercatat di Jamsostek pada periode tahun 2002-2005 sebesar Rp 2,55 Triliyun dengan Rp 550 milyar diantaranya adalah dana kompensasi yang diberikan perusahaan kepada korban akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Kerugian material tersebut belum ditambah dengan kerugian non-material seperti hilangnya nyawa akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Menurut Jamsostek, pada periode 2002-2005 jumlah kerugian non-material seperti kematian berjumlah 5000 kasus, cacat tetap berjumlah 500 kasus. Fenomena kerugian akibat kecelakaan kerja dan penyakit kerja bisa digambarkan sebagai fenomena gunung es, kerugian yang tampak di permukaan bisa jadi sangat besar dibandingkan dengan ekspekstasi kerugian yang tampak di permukaan.

Dalam era persaingan bebas sekarang ini, isu mengenai K3 menjadi sangat penting. Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia “dipaksa” untuk bisa mengimplementasikan K3 secara menyeluruh di setiap proses bisnisnya. Implementasi K3 tersebut dimulai dari perencanaan, proses produksi, pengangkutan, dan pada akhirnya pada tahap perdangangan dan pemasaran. Implementasi K3 merupakan salah aspek yang mendukung produktivitas dari sebuah perusahaan. Seperti telah dijelaskan di atas, kerugian akibat kecelakaan kerja dan penyakit kerja mempunyai korelasi yang kuat dengan menurunnya produktivitas pekerja yang pada akhirnya berakibat secara langsung terhadap kinerja perusahaan. Menurut survei yang dilakukan oleh ILO, Indonesia menduduki posisi ke-2 dari bawah dari segi competitiveness dengan faktor implementasi K3. Survei tersebut membebankan pekerjaan rumah yang cukup besar tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga pemerintah yang dalam hal ini bertindak sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengeluarkan regulasi terkait K3. Pekerjaan rumah tersebut harus cepat diselesaikan jika Indonesia mau bersaing dalam era perdangan global mendatang.

Pemerintah sendiri sebenarnya cukup menaruh perhatian terhadap permasalahan K3 ini. Berbagai macam produk perundang-undangan dan peraturan-peraturan pendukung lainnya dikeluarkan untuk melindungi hak-hak pekerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja mereka. Selain itu, peraturan-peraturan tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar Internasional.

UU no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menjelaskan tentang pentingnya perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja. Undang-undang tersebut didukung oleh UU no 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. UU no 1 tahun 1970 tersebut menjelaskan bahwa pentingnya keselamatan kerja baik itu di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, dan di udara di wilayah Republik Indonesia. Implementasi K3 diberlakukan di tempat kerja yang menggunakan peralatan berbahaya, bahan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), pekerjaan konstruksi, perawatan bangunan, pertamanan dan berbagai sektor pekerjaan lainnya yang diidentifikasi memiliki sumber bahaya.

Menurut permenaker PER.05 / MEN / 1996 Bab I, salah satu upaya dalam mengimplementasikan K3 adalah SMK3 (Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja). SMK3 meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan , pencapaian , pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman , efisien dan produktif penerapan, pencapaian, aman, produktif. SMK3 merupakan upaya integratif yang harus dilakukan tidak hanya dilakukan oleh pihak manajemen tetapi juga para pekerja yang terlibat langsung dengan pekerjaan.

Perundang-undangan yang dihasilkan tentu saja harus selalu diawasi dalam proses implementasinya. Proses pengawasan tersebut diharapkan bisa menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya menghasilkan angka zero accident yang memang merupakan tujuan dilaksanakannya SMK3.

Menakar Kembali Nasionalisme Kita : Sebuah Renungan di Balik Lagu Indonesia Raya

80 tahun silam, pemuda-pemuda Indonesia mengikrarkan sumpah satu Bangsa, satu Negara, dan satu Bahasa. Di tempat yang sama pula dikumandangkan untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ada banyak makna yang tersirat di balik kumandangan lagu Indonesia Raya. Selain sebuah ikrar bahwa kita lahir, besar, dan wafat di tanah bernama Indonesia.

Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku. Di sanalah Aku berdiri jadi pandu ibuku. Merupakan ikrar pertama bahwa kita, pemuda Indonesia sudah sepatutnya merasakan bahwa kita lahir di tanah Indonesia. Oleh karena itu, kita harus rela berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan negeri ini dari setiap gangguan. Walau itu harus menumpahkan darah kita sendiri, kita harus dengan ikhlas hati kita korbankan guna mempertahankan negeri ini. Di manapun kita berdiri di setiap penjuru Indonesia, kita harus menjadi penjaga keutuhan NKRI. Di tengah kecamuk disintegrasi bangsa yang mudah tersulut, pemuda Indonesia harus bisa menjadi aktor utama dalam mempertahankan NKRI.

Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru Indonesia bersatu. Sebuah ikrar berikutnya bahwa Jiwa keindonesiaan harus sudah mendarah daging di setiap bangsa Indonesia, terutama pemuda. Sebuah seruan bahwa hal terpenting terbentuknya NKRI adalah bersatunya seluruh etnis yang hidup di negeri ini. Segala perbedaan budaya, bahasa dan warna kulit tak sepatutnya dikedepankan dalam menyelesaikan setiap permasalahan etnis. Justru seyogyanya ikrar bahwa kita, bangsa Indonesia, harus bersatu menjadi solusi yang harus ditawarkan.

Hiduplah tanahku hiduplah negeriku bangsaku rakyatku semuanya. Persaksian berikutnya adalah pernyataan bahwa negeri ini harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, jauh dari segala intervensi. Semua itu dilakukan untuk mencapai kembali martabat bangsa yang telah lama direbut baik itu oleh bangsanya sendiri berupa maraknya KKN atau Negara lain dalam bentuk neo-liberalisme. Semua itu dilakukan agar bangsa ini berikut setiap elemen di dalamnya termasuk rakyat di dalamnya tidak menjadi budak di negerinya sendiri. Mereka bisa berkata dengan bangga bahwa aku adalah Orang Indonesia.

Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya. Setelah kemerdekaan itu didapat dengan peluh dan darah, sudah selayaknya kita, pemuda, sebagai generasi penerus bangsa dapat mengisi kemerdekaan tersebut. Pengisisan kemerdekaan tersebut dapat kita lakukan dengan pembangunan yang berkelanjutan dan terencana dengan baik. Pembangunan tersebut tidak saja menyentuh aspek fisik tetapi juga aspek non fisik. Dengan membangun kapasitas non-fisik (bangunlah jiwanya) seperti pendidikan, moral bangsa, nasionalisme, penguatan jati diri suatu bangsa akan dapat diakselerasi. Namun demikian, kita tentu saja tidak boleh untuk menapikan pembangunan fisik yang mendukung pembangunan non-fisik dari segi ketersediaan infrasruktur. Tidak bisa dibayangkan jika pembangunan non-fisik seperti pendidikan tidak didukung oleh infrastuktur yang baik.

Indonesia raya merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta. Tekad berikutnya adalah suatu deklarasi bahwa kita adalah negeri merdeka yang sekali harus bisa berdaulat secara menyeluruh, kokoh dan jauh dari segala intervensi bangsa lain yang dapat mengganggu kedaulatan Indonesia. Tekad tersebut harus juga dibarengi dengan rasa cinta memilki identitas bahwa kita Orang Indonesia, bangga bahwa kita lahir dan dibesarkan sebagai bangsa besar, Indonesia. Rasa cinta tersebut menjadi tanpa makna ketika kita tak bisa berbuat apa-apa untuk mengikabarkan kejayaan merah putih. Rasa cinta itu juga dapat kita lakukan dengan mencari segala kelebihan yang bisa “dijual” kepada bangsa Indonesia. Segala potensi yang dimilki oleh bangsa ini telah lama “tidur”, tak termanfaatkan secara optimal dan “dicuri” bangsa lain. Dengan rasa cinta tanah air di hati, pencarian segala potensi bangsa menjadi suatu dorongan yang amat kuat.

Indonesia raya merdeka merdeka hiduplah Indonesia raya. Akhirnya tekad terakhir yang harus selalu kita pelihara adalah keutuhan bangsa ini sebagai bangsa besar dengan 17 ribuan pulaunya, ratusan budayanya. Kedaulatan bangsa ini menjadi tak berarti ketika suatu daerah memecahkan diri dari NKRI. Kita perlu berkaca pada kasus-kasus terdahulu yang membuat kita kehilangan sebagian daerah territorial kita. Di samping itu, sebagai bangsa yang berdaulat, kita masih saja bisa diperdaya oleh bangsa lain baik itu dalam bentuk pencurian kekayaan alam kita, pengikatan bangsa lain dalam bentuk utang Negara dan bentuk-bentuk lainnya yang tidak mencerminkan bahwa kita sebagai bangsa yang merdeka. Semua itu terjadi karena kita sebagai bangsa kurang siap dalam membaca arah zaman.

Semoga dengan sedikit renungan tersebut kita bisa tersadarkan dari “tidur panjang” kita. Kita harus segara bangkit dan siap mengikuti “arus zaman”. Dengan segala keterbatasan yang diberikan Allah kepada tidak selayaknya kita jadikan penghalang untuk bangkit. Alih-alih menjadi penghalang, seyogyanya keterbatasan itu harus dijadikan “bumbu pelengkap” guna mencapai keunggulan bangsa. Sebagai bangsa yang berdaulat, kita sudah mempunyai modal yang besar. Modal yang besar untuk bangkit, karena Harapan Itu Masih Ada. MERDEKA!!!!!!!!!!!!!!!

Penerapan Prinsip Lean dalam Ruang Kerja

Dewasa ini, proses-proses yang terjadi dalam dunia manufaktur sudah mengacu pada prinsip-prinsip yang dulunya dibuat oleh para pendiri perusahaan manufaktur terbesar Jepang, Toyota. Prinsip yang kini disebut sebagai Toyota Production System atau di dunia manufaktur barat sebagai Lean Manufacturing tidak hanya bisa diterapkan dalam dunia manufaktur saja tetapi juga bisa diterapkan dalam dunia jasa.

Prinsip-prinsip seperti Kaizen (continous improvement) dan six-sigma bisa diimplementasikan di seluruh aspek kehidupan manusia. Sebut saja prinsip kaizen yang bisa diterapkan bagi seorang individu yang ingin terus memperbarui diri meskipun perbaikan itu sedikit demi sedikit, tidak signifikan dalam satu waktu. Misal, Keinginan untuk terus memperbarui diri dalam belajar bahasa asing bisa dilakukan dengan menyicil perbendaharaan kata asalkan menuju kepada proses improvement, tidak berjalan di tempat. Proses improvement yang berkelajutan tersebut meskipun perbaikan itu kecil namun berkelanjutan terbukti lebih efisien dan efektif dalam melakukan proses improvement dalam sebuah organisasi.

Salah satu prinsip lainnya dari sistem lean ini adalah prinsip 5S (Seiri (susun), Seiton (Rapi), Seiso (Bersih), Seiketsu (Memelihara Kebersihan), dan Shitsuke (Disiplin)). Prinsip 5S tersebut sebenarnya merupakan salah satu proses penstandaran dalam melakukan proses produksi. Prinsip tersebut jika memang diimplementasikan secara benar dan konsisten maka baik itu proses produksi maupun proses-proses kerja lainnya akan berjalan dengan efisien.

Prinsip 5S tersebut dilakukan secara simultan dan harus dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Prinsip Seiri-susun atau sort barang-barang yang tidak diperlukan dan singkirakan sehingga tidak memakan ruang kerja. Prinsip Seiri ini juga menyarankan supaya dibuatkan prosedur yang jelas dalam peletakan barang-barang dan juga prinsip pelabelan dari dokumen-dokumen kerja. Prinsip tersebut dilakukan dalam rangka untuk memimalisasi area kerja dari barang-barang yang tidak berguna dan juga penstandaran dari proses manajemen dokumen.

Prinsip kedua yakni Seiton-Rapi adalah kelanjutan dari prinsip Seiri tersebut di atas. Setelah barang-barang tersebut di-sortir berdasarkan keperluan barulah barang-barang tersebut disusun berdasarkan frekuensi pemakainnya. Prinsip tersebut bertujuan agar area kerja kita menjadi lebih menyenangkan dan bisa meningkatkan motivasi dalam bekerja. Selain itu, prinsip tersebut bertujuan untuk meminimalisasi waktu mencari dari dokumen-dokumen yang diperlukan. Permasalahan waktu mencari ini menjadi sangat krusial untuk diperbaiki mengingat sifatnya yang tidak memberi nilai tambah ketika bekerja.

Prinsip selanjutanya adalah Seiso-Bersih. Prinsip ini menekankan kepada kita akan pentingnya membersihkan area kerja kita secara terus-menerus. Prinsip ini juga menyarankan kepada kita untuk segera mengembalikan peralatan atau dokumen yang telah dipakai kembali ke tempatnya. Pembersihan area kerja sesegera mungkin tersebut untuk meminimalisasi hilangnya dokumen-dokumen penting dari perusahaan akibat tercampur dengan dokumen-dokumen yang tidak diperlukan. Dengan dijalankannya prinsip ini, prinsip-prinsip sebelumnya, Seiri dan Seiton, tidak sia-sia dilakukan. Selain itu, area kerja yang tertata juga mencerminkan bagaimana kita mengatur diri kita dan secara tidak langsung mencerminkan kepribadian kita.

Prinsip selanjutnya adalah prinsip-prinsip yang bertujuan untuk memastikan ketiga prinsip sebelumnya dapat berjalan. Prinsip-prinsip seperti Seiketsu-Memelihara Kebersihan dan Shitsuke-Disiplin menjadi sangat krusial supaya proses improvement berjalan dengan efektif dan efisien. Tujuan dari prinsip seiketsu adalah untuk meminimalisasi cacat atau kesalahan akibat kelalaian dari pekerja disebabkan area kerja yang tidak tertata dengan rapi. Tujuan dari prinsip Shitsuke-Disiplin ini adalah penstandaran dari pekerjaan dan area tempat bekerja sehingga memudahkan dalam melakukan pekerjaan.

Secara umum penerapan 5S dalam merancang area kerja bertujuan untuk meningkatkan performansi kerja dari pekerja yang pada akhirnya berimplikasi besar terhadap perfomansi perusahaan secara keseluruhan. Perancangan area kerja berdasarkan prinsip 5S juga bisa meningkatkan motivasi pekerja dan membuat pekerjaan menjadi lebih menyenangkan alih-alih menjadi beban.

Sepatu Bush dan Introspeksi Diri

Beberapa waktu silam, sebuah kejadian yang bisa dibilang cukup berani dilakukan oleh salah seorang wartawan dari sebuah televisi swasta Albaghdadia, sebuah stasiun televisi berita yang berkedudukan di Mesir. Al-zaidi mendadak menjadi salah seorang selebritis dunia karena perilaku berani yang ia lakukan. Al-zaidi dengan kesadaran penuh melemparkan tidak hanya satu buah tetapi sepasang sepatu ke arah presiden negara adidaya, Amerika Serikat. Ketika itu, Bush hendak melakukan konferensi pers terkait kunjungannya yang terakhir kali ke Irak.

Dengan penuh keberanian, Al-zaidi melemparkan sepasang sepatu ke arah muka presiden Bush sembari melontarkan kata-kata makian ke arah presiden zalim tersebut. Pada lemparan pertama, Ia meluapkan kekesalannya, dalam bahasa Arab, dengan kata-kata makian ““This is the farewell kiss, you dog!”. Pada lemparan kedua wartawan berani tersebut melontarkan kata-kata simpati yang intinya lemparan sepatu tersebut merupakan luapan kekesalannya terhadap invasi Amerika yang direkayasa oleh Bush.

Kejadian menarik itu tak berhenti sampai di situ saja, setelah Al-zaidi berhasil diamankan, presiden Bush sempat ditanya terkait kejadian tersebut. “Mengapa Anda bisa dilempari seperti itu?” tanya salah seorang wartawan yang hadir dalam konferensi pers tersebut. Yang menarik adalah jawaban yang dilontarkan oleh sang zalim berikut, “Saya tidak takut terhadap kejadian seperti ini…dan saya tidak tahu mengapa orang tersebut bisa melakukan seperi itu kepada saya….”.

Pernyataan yang dilontarkan tersebut cukup menarik mengingat apa yang dia lakukan terhadap warga Irak dan Afganistan dan Palestina secara tidak langsung dengan kebijakan-kebijakannya. Pernyataan yang seolah “tidak tahu diri” tersebut bisa menggambarkan betapa rusaknya moral seorang Bush yang telah mengobarkan peperangan terhadap umat Islam.

Tampak dari pernyataan Bush tersebut, ia bukanlah orang yang baik dalam hal mengintrospeksi diri sendiri. Setelah kebijakan-kebijakan yang menyudutkan dan mengobarkan peperangan terhadap kaum muslimin ia dengan “tanpa berdosa” menanyakan mengapa sepatu melayang ke arahnya dalam konferensi pers tersebut.

Seyogyanya, sebagai seorang yang berbudi tentu kita menyadari bahwa orang-orang sekitar kita akan berekasi atau melakukan hubungan timbal balik berdasarkan prilaku kita terhadap mereka. Ketika kita melakukan aksi (kebaikan), misalnya menolong kawan atau sahabat kita ketika mereka menghadapi kesulitan tentu kita akan mendapat reaksi yang setimpal dengan mendapatkan simpati dan mungkin di kemudian hari kawan kita tersebut dengan siap siaga akan membantu kita pula ketika kita mendapatkan kesulitan. Rumusan yang sangat sederhana adalah setiap aksi pasti ada reaksi yang besarannya setimpal dan berlawanan arah.

Dalam kasus Bush tadi, tentu keberanian Al-zaidi tersebut sesuai dengan sunnatullah di atas. Al-zaidi tentu tidak akan melakukan kejadian konyol tersebut jika dan hanya jika Bush sebagai seorang pemangku jabatan tidak mengeluarkan kebijakan peperangan terhadap negeri Irak dan Afganishtan. Namun, sangat disayangkan rumusan sederhana di atas tampaknya tidak sepenuhnya dimengerti oleh Bush.

Kemampuan untuk mengerti rumusan sederhana di atas tampaknya harus dipahami benar bagi mereka yang hendak menjadi pemimpin di berbagai sektor di negeri ini. Peribahasa siapa yang menebar benih maka ia pula yang akan memanen hasilnya tampaknya perlu dihayati benar oleh kita. Kampanye-kampanye instan berupa iklan pamor yang marak akhir-akhir ini di stasiun-stasiun televisi Nasional menyiraktkan bahwa mereka yang terlibat dalam proyek tersebut kurang sepenuhnya mengerti tentang esensi dari rumus sederhana di atas.

Mereka tentu tidak akan mengeluarkan uang milyaran rupiah hanya untuk meraih simpati dari rakyat. Cara yang mereka lakukan sebenarnya cukup dengan menebar benih kebaikan yang didalamnya tersimpan pesan keikhlasan serta mengharap ridha Allah SWT. Dengan menebar benih kebaikan tersebut tentu masyarakat akan dengan mudah menangkap pesan dan esensi dari kebaikan yang kita lakukan.

Selain itu, kemampuan untuk mendengar segala isyarat-isyarat seperti layaknya sepatu Bush tadi perlu dikuasai oleh calon pemimpin masa depan. Kita perlu menangkap apa sebenarnya yang dirasakan oleh orang yang kita pimpin tersebut. Kemampuan untuk ikut “nimbrung” dalam setiap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh mereka diharapkan bisa mempermudah bagi seorang pemimpin untuk mengambil kebijakan yang efektif dan efisien. Kebijakan yang tepat sasaran sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh mereka yang dipimpin.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengintrospeksi diri lebih baik lagi…

Pemuda dan Transformasi Bangsa

und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein

hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan

Friedrich Schiller

Sejarah mencatatat para pejuang muda, Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Saad bin Abi Waqash, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf memperjuangkan Islam hingga tersebar ke seluruh pelosok dunia. Ketika itu, Islam menjadi salah satu kiblat peradaban dunia dan berhasil menguasasi duapertiga di antaranya. Sinar Islam terang benderang, memancarkan cahaya peradaban atas hasil karya para mujahidin muda yang diantaranya disebutkan di atas.

Semangat Islam mencakup tidak saja aspek ritual tetapi juga menyentuh setiap sendi kehidupan manusia. Semangat untuk menggali ayat kauniah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, semangat humanisme, semangat berpolitik menjadi cakupan yang masih sempat dari ajaran dien yang sudah sangat sempurna ini. Semangat perubahan yang dipropagandakan oleh Rasulullah SAW berhasil mengubah kehidupan yang gelap gulita menjadi terang benderang. Kondisi bangsa Arab yang terpuruk dari peradaban dunia ketika itu berhasil dijungkirbalikan oleh kemuliaan hati Rasulullah SAW.

Di dalam negeri, tak usah ditanya peran Soekarno-Hatta dalam mengubah negeri terjajah ini. Semangat perubahan menyala-nyala dalam setiap relung tubuh mereka. Semangat untuk mengubah keadaan, semangat untuk memusnahkan ketertindasan telah mengisi setiap tetes darah mereka. Perubahan yang memang tak selalu mulus itu tak sampai menciutkan nyali sang proklamator negeri ini. Mata hati mereka telah lelah merasa, mendengar, dan melihat keluh kesah rakyat jelata yang notabene saudara-saudara mereka.

Perlu dicatat pula, semangat untuk berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu dilahirkan atas olah pikir, olah rasa para pejuang muda. Semangat untuk mengesampingkan loyalitas daerah menyeruak dalam diri. Tak penting lagi jong java, jong Sumatra dan bentuk perserikatan sukuisme lainnya ketika panggilan senasib dan sepenanggungan telah menggetarkan hati. Panggilan Nasionalisme telah meningkatkan voltase pengorbanan. Kemauan untuk dapat berdiri tegak sama tinggi, duduk sama rendah menjadi guru yang berharga bagi para pejuang muda.

Penggulingan kekuasaan rezim Cendana pun menjadi bukti otentik-kontemporer dari peran pemuda dalam mentransformasi bangsa. Tekad untuk mengubah keadaan yang itu-itu aja memang selalu menjadi cambuk api bagi setiap pergerakan pemuda. Kegalauan akan keterpurukan dan kontradiktif dengan keadaan alamnya menjadi bahan bakar dalam setiap semangat perubahan. Kanker negeri ini yang kadung kronis perlu segera diperbaiki setelah bergulirnya era reformasi. Era reformasi menjadi panggung pemuda yang strategis yang sudah sekian lama suaranya dibekap, tak bersuara lantang.

Namun, ditengah era reformasi yang sudah ada dalam genggaman belum juga menampilkan wajah keemasannya. Era reformasi masih saja dimiliki kaum tua yang tetap populis di kalangan masyarakat kita. Sebut saja para mantan-mantan pemangku jabatan pada rezim orde baru masih bisa melenggangkan kakinya di gedung Nusantara, Senayan. Semangat perubahan yang harus dibayar mahal oleh darah pemuda belum juga mencapai idealisasinya. Pembelajaran untuk perubahan yang telah diajarkan memang perlu ditambah beberapa SKS untuk semakin memantapkan peran pemuda.

Semangat muda yang energik dan reformik, harus terus digelorakan untuk memusnahkan setiap kebatilan. Semangat muda yang kritis dan analitis perlu diasah hingga tak tumpul dalam mencermati setiap permasalahan bangsa. Perubahan dan pergerakan memang berada di tangan pemuda. Pemuda yang bersih dari segala keinginan hawa nafsu yang fana. Pemuda-pemuda yang rela mengorbankan jiwa, raga dan harta demi kemakmuran bangsa.

Karena kita pemuda, mari transformasi bangsa.

Menggapai Kesalihan Sosial dari Ramadhan

Hampir genap 1 bulan, seluruh umat muslim di seluruh dunia menunaikan ibadah shaum Ramadhan. Sudah hampir sebulan pula umat muslim di seluruh dunia ditempa dengan amalan harian Ramadhan. Amalan-amalan harian itu akan membentuk seorang muslim menjadi muslim sebenarnya. Tempaan amalan harian Ramadhan, hendaknya menjadi sekolah rohani yang akan membentuk seorang muslim menjadi lebih berempati. Sense of empathy yang tinggi ini sangat diperlukan dalam kondisi bangsa yang karut marut ini. Sense of empathy akan membentuk seorang muslim menjadi seorang yang bisa merasakan kondisi wong cilik. Sense of empathy ini pula yang diharapkan bisa dimiliki oleh para pemimpin bangsa.

Keluaran yang diharapkan ada pada diri seorang yang berpuasa adalah untuk menjadi seorang yang lebih bertakwa. Seperti yang telah Allah SWT jelaskan dalam surat Al-baqarah : 183, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”.

Ketakwaan untuk tunduk dan patuh terhadap segala perintah yang telah diputuskan oleh Sang Pencipta memang menjadi titik tekan dalam keluaran ibadah shaum Ramadhan ini. Namun, “ketakwaan sosial”, suatu bentuk ketakwaan yang berdasar atas sumbangsih peran kita terhadap kondisi sosial yang ada, menjadi harapan baru ketika seluruh umat muslim meninggalkan bulan Ramadhan.

Realita berupa kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan penguasa, kriminalitas diharapkan mampu dihapus dengan adanya penempaan ramadhan. Pembentukan mental yang merupakan sebuah proses panjang pembentukan masyarakat memang tidak instan dapat tercapai dengan hanya ibadah shaum Ramadhan selama satu bulan. Oleh karena itu, benih-benih untuk lebih peduli terhadap kondisi sosial yang ada harus terus dipupuk setelah Ramadhan berakhir.

Berempati, mau merasakan kondisi sosial masyarakat secara nyata menjadi sikap yang perlu hadir setelah kita meninggalkan bulan suci ini. Pada dasarnya, ramadhan membentuk seorang muslim tidak saja soleh secara pribadi tetapi juga soleh secara sosial. Kesalihan sosial, kesalihan yang berjamaah dan mau berempati terhadap kondisi masyarakat, menjadi salah satu solusi yang ditawarkan terhadap permasalahan bangsa yang sudah sangat kompleks.

Bisa dibayangkan, ketika para pemimpin mampu mengambil hikmah secara lebih mendalam dalam setiap amalan Ramadhan maka kehidupan bangsa yang lebih diridhoi oleh Allah SWT bukan hal yang mustahil untuk tercapai. Ramadhan membentuk pribadi diri ini menjadi lebih ihsan, suatu kondisi di mana seseorang merasa terus diawasi dalam setiap gerak-geriknya oleh Sang Maha Mengetahui. Pelajaran ihsan, salah satu pelajaran penting dari bulan Ramadhan, akan mampu membentuk seorang muslim untuk lebih amanah. Implikasi jangka panjang yang berkolesi dengan kondisi bangsa saat ini adalah diharapkan berkurangnya angka korupsi di Indonesia karena pada dasarnya prilaku korupsi tergantung dari perilaku secara individu. Jika perilaku secara individu mampu lebih ihsan, maka perilaku korupsi itu dengan sendirinya akan bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan.

Jadi keluaran berupa kesalihan sosial menjadi harapan baru yang menjadi titik cerah dalam mengatasi segala masalah yang menumpuk di negeri ini. Keluaran ibadah Ramadhan diharapkan tidak saja membentuk seseorang lebih dekat kepada rabb-nya, tetapi membentuk suatu komunitas jama’i yang lebih cinta terhadap rabb-nya. Oleh karena itu, kesalihan sosial menjadi suatu keniscayaan apabila setiap individu mampu menghayati dan berkontemplasi terhadap segala masalah sosial masyarakat yang ada.

« Older entries